Dalam
melakukan, menganalisa dan mengevaluasi semua bentuk kegiatan ekonomi kita selalu
dihadapkan degan 3 pertanyaan dasar. Apa yang harus diproduksi, bagaimana cara
memproduksi dan untuk siapa produk ini dibuat? Pertanyaan ini sangat banyak
kita temui dalam buku-buku ekonomi di SLTA hingga bangku kuliah. Perspektif yang
digunakan rata-rata masih berdasarkan pemahaman barat yang budayanya jelas
berbeda. Lalu bagaimana ekonomi Islam menjawab 3 pertanyaan dasar diatas, mari
kita membahasnya satu persatu:
Pertanyaaan pertama: apa yang
harus diproduksi?
Diabad modern
ini, saat informasi simpang siur masuk ke pikiran kita, ada sebuah istilah tak
asing bagi telinga kita yaitu pembeli adalah raja. Ungkapan itu adalah simbol
yang mewakili bahwa semua keinginan pembeli mutlak harus dipenuhi. Baik dari
jasa pelayanan, kualitas barang yang diproduksi, hingga aspek distribusi. Namun
dengan syarat pembeli harus mau membeli barang sesuai dengan harga yang dipatok
penjual. Sikap seperti ini diharapkan mampu mendatangkan keuntungan yang besar
bagi penjual, dan keinginan yang terpuaskan dari sisi pembeli. Hal ini tentu
hanya dapat diketahui ketika para penjual dan pembeli berinterakasi dalam suatu
tempat yang disebut pasar.
Informasi yang
didapat dari hasil interaksi inilah yang akan membantu untuk menjawab pertanyaan
diatas “apa yang harus diproduksi?” dengan harapan akan berujung pada transaksi
yang menguntungkan diantara kedua belah pihak.
Dalam Islam,
asas transaksi adalah kebutuhan. Jadi analisa pertama yang dipakai untuk menentukan
apa yang harus diproduksi dalam Islam adalah melihat kebutuhan pembeli. Yang
kedua baik atau tidak untuk kemashlahatan pembeli. Islam adalah agama yang memperhatikan
kemanfaatan secara holistik, begitu juga ekonomi Islam yang tujuannya adalah
falah yang berarti kemashlahatan holistik dunia akhirat, manfaat bagi individu
maupun sosial. Jadi meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dengan mengkomodasi
sifat tabzir (berlebih-lebihan) dan isrof (boros) dari pembeli
tidak pernah bisa dibenarkan dalam Islam.
Dalam realita
kontemporer, banyak sekali produk barang dan jasa yang sebenarnya tidak
dibutuhkan oleh masyarakat, tapi diolah dan dikomunikasikan sehingga menjadi
sebuah kebutuhan. Katakanlah seperti mobil di ibukota, atau kosmetik bagi kaum
hawa. Dalam Islam kendaraan dimiliki bila ada kebutuhan, mobil dibeli ketika
kita punya harta cukup dan punya keperluan untuk berjalan jauh. Faktanya kini
mobil dibeli hanya untuk mengejar gengsi, tanpa peduli apakah akan menambah
porsi kemacetan atau mengorbankan gaji untuk dipotong kredit secara bulanan.
Padahal jelas, gengsi itu adalah bentuk mencari perhatian kepada mahluk yang rentan
membuatnya lupa kalo perbuatanya sedang diperhatikan Allah SWT.
Transaksi yang
berdasarkan keinginan sangat rentan akan tabzir dan israf. Pola
hidup seperti inilah yang melahirkan jiwa konsumerisme yang berujung pada suburnya
praktek riba. Ketidakmampuan diri untuk membeli, memaksa seseorang mencari
pinjaman. Padahal pihak peminjam juga punya kepentingan untuk memuaskan
keinginannya. Dengan alasan “keinginan yang tertunda” inilah lahir konsep yang
disebut “time value of money”. Sehingga logika mulai menerima riba sebagai
alasan logis dalam transaksi pinjaman. Penerimaan logika inipulalah yang
membuat akal percaya “uang bisa bekerja”, parahnya lagi ekonomi konvensional
menganggap “pekerjaan uang” selalu produktif, sehingga total bunga bisa
dihitung sejak awal pinjaman. Padahal value dalam Islam hanya ada saat kita
bekerja yang dalam ekonomi dikenal dengan bahasa produktifitas. Seperti seorang
penulis akan makin bernilai saat ia produktif menghasilkan karya-karya yang bermanfaat.
Imbas dari implementasi
dan akomodasi produk “keinginan” ini tentu akan menambah beban finansial.
Sehingga secara tidak langsung membuat manusia kian kosumtif, sehingga yang
kaya makin kaya untuk memenuhi jiwa konsumerismenya, dan yang miskin makin
nelangsa dengan alasan yang sama, yaitu berharap untuk memenuhi keinginan yang
belum tentu baik buatnya.
Tiap-tiap manusia terikat
dengan apa yang dikerjakannya (At-thur: 21)
Setiap penjual
bertanggung jawab dengan apa yang dibuat dan dijualnya dan setiap pembeli bertanggung
jawab dengan apa yang dibelinya. Setiap perbuatan manusia terikat dengan hablumminanas
dan hablumminallah. Bahkan dalam Islam penjual wajib melarang anak
kecil yang membeli rokok yang jelas memberikan mudhorot baginya. Atau melarang
seorang yang punya darah tinggi untuk membelli sate kambing buatannya. Karena dalam
Islam pembeli tidak selamanya raja. Bila mengacu pada konsep konvesnional
diatas tentu tidak sesuai, dengan alasan tidak rasional dan menurunkan
keuntungan.
Pertanyaan kedua: Bagaimana
barang/ jasa diproduksi?
Bila kebutuhan
masyarakat sudah diketahui, dan baik bagi masyarakat. Proses produksi,
distribusi hingga pelayanannya juga harus sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Membuat produk yang benar-benar baik dan memberi mashlahat. Tidak hanya sekedar
memenuhi kebutuhan, karena bila proses produksi benar-benar diniatkan untuk
ibadah maka produsen akan berpikir memberikan yang terbaik untuk produk yang
dihasilkan. Agar kebutuhan konsumen benar-benar terpenuhi tanpa ada setitikpun
bentuk kezaliman.
Dalam konsep
konvesional dikenal prinsip, keuntungan maksimal dan biaya yang minimal. Dalam Islam
kita menganal keuntungan yang mashlahah dan biaya yang efisien. Efisien disini
bisa bermakna biaya yang sedikit untuk produksi yang lebih besar. Namun caranya
tetap berlandaskan asas mashlahah. Penekanan biaya bisa dilakukan teknologi
yang tepat guna, membuat skala ekonomi industri dengan simbiosis muatuallisme
dengan masyarakat lokal, peningkatan kapastitas dan kapabilitas pegawai, yang
intinya biaya yang efisien artinya setiap komponen biaya mampu menghasilkan
barang yang lebih banyak dan tetap sesuai dengan standar mutu untuk kebutuhan
konsumen.
Analisa
terhadap faktor-faktor produksi yang dibutuhkan tetap mengacu pada konsep
mashlahah artinya keuntungan 2 arah. Produsen mampu meningkatkan kapasitas
produksi dan meningkatkan keuntungan, sedangkan konsumen lebih banyak lagi yang
terpenuhi kebutuhannaya karena total produksi yang meningkat dan harga yang
kian terjangkau. Dalam praktek dagang salah satu pengusaha sukses dizaman
RAsulullah SAW yaitu Abdurrahman bin auf RA beliau sangat memperhatikan
likuiditas modal dan total produksi. Bahkan dalam satu riwayat pernah dikatakan
“bahwa beliau penah berjualan kuda, dengan untung hanya sebesar nominal harga
tali pengekang kuda”.
Pertanyaan Ketiga Adalah: untuk
siapa barang/ jasa ini diproduksi?
Pada hakikatnya
setiap insan adalah konsumen. Bahkan produsen yang mempekerjakan pekerjapun, ia
adalah konsumen dari produsen lainya. Jadi jawaban paling mudah untuk
pertanayaan diatas adalah barang/ jasa diproduksi untuk mereka yang
membutuhkan. Yang mampu secara financial dan baligh secara emosional. Karena pembelian
yang sesuai kebutuhanlah yang akan melahirkan produktifitas dan peningkatan
produktifitas tentu akan meningkatkan pendapatan yang akhirnya meningkatkan
konsumsi. Salah satu faktir yang dapat dianalisa adalah dari total pendapatan
rata-rata suatu Negara. Segmentasi konsumen berdasarkan pendapatan yang akan
melahirkan kualitas produk yang berbeda sesuai dengan kemampuan daya beli.
Produk yang
baik tentunya adalah produk yang mampu dikonsumsi oleh semua kalangan, kaya dan
miskin, mampu menikmati dan membelinya, sehingga ia bisa diproduksi kapan saja
dengan jumlah yang banyak dan stabil. Segmentasi konsumen akan membantu
menganalisa total produk yang akan ditawarkan dan kualitas produk sesuai dengan
asas kenyamanan yang mereka butuhkan.
Karena tak
semua orang terlahir kaya, dan tak ada juga orang yang ingin terlahir miskin,
maka tujuan dari ekonomi Islam adalah mashalah, dimana internalisasi nilai Islam
dalam sistem ekonomi mampu memberikan kesempatan yang sama bagi setiap manusia
untuk maju dan sejahtera. Dan menutup ruang bagi manusia untuk menumpuk modal
sebanyak-banyaknya sehingga membuat sistem ekonomi secara tidak langsung diatur
oleh sebagian orang, karena ekonomi konvensionalpun mengakui pasar yang terbaik
adalah pasar persaingan sempurna, dimana harga benar-benar ditentukan oleh demand
dan supply.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar